Unknown Malu sebagian Dari pada Iman Friday, July 1, 2011 Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitny... 5

Malu sebagian Dari pada Iman


Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung dianugrahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakan jauh-jauh sifat mulia  dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tau malu daripada laki-laki.

1.       Malu adalah iman
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa sallam, yang artinya: “malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satu hilang maka yang lain akan hilang”(HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadist ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya).
Rasulullah SAW, pernah melewati laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasulalloh Shollallaahu alaihi wa sallam, yang artinya: “tinggalkan dia, sesungguhnya malu itu sebagian daripada iman” dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulalloh Shallallohu Aalaihi wa Sallam bersabda: “iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘La ilaha illallah’ yang yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dijalan. Dan malu adalah bagian daripada iman.”(HR:Bukhari).

2.       Malu, Kunci segala kebaikan
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk melakukan dosa berbandingterbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.

Abu Hatim berkata: :Bila manusia terbiasa malu, maka terdapat pada dirinya faktor-faktor kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tau malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak aka nada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahata.”

Mepunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder atau tidak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintropeksi diri, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karna Allah SWT atau karena manusia.misalnya saja kita malu memakai jilbab yang Syar’I, malu menunjukan jati diri sebagai seorang pria muslim atau malu pergi ke majelis Ta’lim. Apakah malu yang demikian karna Allah SWT atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kepada selain-Nya? Padahal malu kepada Allah lah yang harus kita utamakan. Bukankah Allah lah yang berhak kita malui??

Sumber :
Buletin Jum'at Masjid Arrafah

Related Posts On Buletin Jum'at

No comments:


Copyright © Desa Loyang

Sponsored By: Free For Download Template By: Fast Loading Seo Friendly Blogger Template