Jaya al-aziz Selamat Pagi Desaku ! Wednesday, February 5, 2014 Pagi ini aku bangun dengan sedikit berat. Mataku tak juga bisa terbuka. Tubuhku terasa ngilu, entah kenapa. Padahal sepanjang kemarin aku t... 5

Selamat Pagi Desaku !

Pagi ini aku bangun dengan sedikit berat. Mataku tak juga bisa terbuka. Tubuhku terasa ngilu, entah kenapa. Padahal sepanjang kemarin aku tidak melakukan aktifitas yang memberatkan. Seperti pagi pagi sebelumnya selama seminggu ini di rumah, aku akan mengantarkan adikku sekolah di Tk satu-satunya yang ada di desaku. Tempatnya tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dua atau tiga menit cukup sampai kesana dengan motor matic-ku. Sejujurnya aku sudah bosan dengan rutinitasku selama seminggu di kampung ini. aku jarang, bahkan hamper tidak pernah bangun pagi dengan ceria dan tersenyum, wudhu dan shalat malam di pagi buta. Mengurusi keperluanku sendiri kemudian beraktifitas di luar rumah sampai sore hari. Di rumah, aku benar-benar pasif. Tidak ada yang bisa ku kerjakan dengan sepenuh hati, kecuali hanya menonton tv. Benar kata pakar pendidikan yang menganjurkan menjauhkan anak-anak dari layar televise, karena tv seperti sihir yang membuat orang betah berjam-jam menontonnya. Dari satu chanel ke chanel yang lain, dari satu program ke program yang lain. seolah hidup ini tidak berarti, tidak bergairah untuk melakukan yang terbaik.
Kembali pada kondisi tubuhku pagi ini. aduh. Kalau di biarkan berbaring di tempat tidur, akan terus menerus seperti ini. kulirik keadaan jalan di depan rumahku dari jendela. Motor berlalu lalang mengantarkan pemiliknya di sawah, suara traktor memecah kesunyian pagi, orang-orang bersiap berangkat menjemput rizki ke tempat tujuannya masing-masing dan anak-anak mulai terlihat berjalan menuju sekolahnya. Berpakaian rapi. Selamat pagi, desaku! Apa yang bisa ku harapkan darimu? Atau apa yang kau harapkan dariku? Di Jogja, mungkin karirku mulai merangkak, tinggal memberanikan diri untuk selangkah lebih maju, aku yakin bisa sukses. Tapi di sini, aku benar-benar memulai semuanya dari nol. Zero. Sepertinya, aku harus membuat rancangan baru untuk masa depanku, untuk perjuanganku beberapa tahun ke depan. Aku masih ingin bisa bermanfaat untuk orang lain. aku masih ingin mengejar cita-citaku menjadi seorang penulis. Desaku, sambutlah aku! Jangan sampai keterbatasan membuatku mundur.
Berbicara tentang desaku. Aku semakin miris. Desaku tak lagi perawan. Aku masih ingat, dulu saat aku kelas 3 SD, sekolah Madrasah dan mengaji di mushola, buanyak sekali gadis-gadis berjilbab hilir mudik di desaku. Mereka berbondong-bondong dating ke Madrasah dan mengaji di mushola-mushola yang ada di setiap bloknya. Yang laki-laki, selalu membawa sarung kemana-mana dengan kopiah yang melekat di kepalanya. Kemudian kami berebut hafalan kitab di madrasah. Aku kangen sekali suasana itu. Dulu, pergaulan remaja amat sangat terjaga. Tidak ada acara bonceng-boncengan naik motor, apalagi yang bergaya ‘ransel’. Kalaupun suka dengan seseorang biasanya hanya akan memberikan secari kertas dengan tulisan ‘aku suka kamu’. Weleh. Lebay sekali ya. Tapi lucu dan santun. Untuk bertemu rasanya sangat malu, jangankan pegang-pegangan, untuk melihat saja sangat malu.
Ahhhh, indahnya suasana kecilku di kampung kecil ini. tapi kini, rasanya seperti ada yang mencubitku saat mengetahui betapa berbedanya suasana dulu dengan sekarang. Baru seminggu aku di rumah, sudah tersiar kabar tentang anak-anak remaja yang masih belasan tahun mengalami MBA (Married by Accident). Innalillahi wainna ilaihi rojiun…
“ Zi, tau nggak si D itu hamil loh. Katanya sih udah di buang tuh bayi.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku mendengar penuturan Anna, teman mainku waktu kecil. Siang itu sengaja aku silaturahmi ke rumahnya.
            “Bukannya dia masih kelas 1 SMA ya? Kata bibiku, dia juga mau nikah bulan depan.”
            “Iya, ya makanya cepet-cepet nikah. Biar gak ketahuan kalo udah hamil duluan.”
Astagfirullah.
            “Kamu gak usah kaget gitu zi. Sekarang mah udah umum. Tuh liat tetanggaku, dia itu juga hamil duluan. Padahal cowoknya masih punya istri di Arab Saudi.”
Hah?????!!!!!!
Aku melirik seorang gadis cantik. Benar-benar cantik dengan pakaian terbuka. Sedang menyapu halaman rumah yang tepat di samping rumah Anna. Sepertinya aku kenal gadis itu. Rasanya waktu aku kelas 3 SD, dia masih TK. Sekarang? Ya Robbana banyak sekali kejutan yang ku dapat seminggu ini…. 
            “Kayaknya sekarang hamil di luar nikahpun dianggap wajar ya Na. kok orang tuanya nggak nyekolahin mereka sih?” tanyaku heran.
            “Iya, sekarang udah di anggep wajar. Katanya mereka ngelakuinnya juga di rumah cowoknya kok. Ya mau nyekolahin gimana wong anaknnya nggak mau. Maunya kawin cepet-cepet. Takut gak laku.”
Hedeuuuuuh.
            “Kamu coba liat aku zi, umurku sekarang 19 tahun. Aku baru cerai 2 bulan sama suamiku. Pengen sekolah, sama orang tua dilarang, katanya di suruh nikah atau jadi TKW ke Taiwan aja. Mau gimana? Nggak kayak kamu yang enak banget bisa sekolah tinggi, bahkan sampai ke Universitas.”
Degg! Benar kata anni, aku harus bersyukur dengan keadaan baik yang ku alami.
            “Memangnya udah di bicarakan baik-baik sama orang tua, Na?” tanyaku mencoba bersimpati.
Ia mengangguk. Aku tak ingin bertanya lebih lanjut lagi.
Sejak  pembicaraanku dengan Ana, aku lebih membuka mata melihat keadaan desaku tercinta.  Anna, di desaku banyak sekali janda-janda muda usia belia. Amat sangat belia. Apalah daya, pendidikan kurang, ilmu agama yang minim, serta gempuran media untuk menyemarakkan seks bebas membuat fikiran remaja desa hanya fokus pada satu titik. Menikah atau hamil di luar nikah. Tak ada bekal pernikahan, tak ada bekal materi, tak ada bekal ruhani, belum sempurnanya fikiran kedewasaan membuat mereka bercerai dengan mudahnya. Bahkan pernikahan seperti layaknya pacaran, cerai dengan si A besok nikah sama si B, cerai sama si B besok nikah sama si C. Miris.
Ternyata benar kata Kemarin saudaraku menikah, rumahnya di tengah-tengah desa ini. sampai hari pernikahan, aku tidak juga melihat si pengantin. Dan saat acara ‘gambusan’ di mulai. Aku melihat sipengantin perempuan, Masya Allah. Masih belia sekali, ku taksir usianya kalau tidak lima belas tahun, berarti enam belas tahun. Allahu robbi…….

Aku sedih mengetahui hal ini. apa yang harus ku lakukan untuk desaku? Sedangkan aku masih berpusat pada kepentingan pribadiku sendiri.


Author : Zias G Farrezma

Related Posts On Cerita Motivasi

1 comment:

muhammad fauzi said...

Mungkin kamu bisa mangasih contoh terlebih dahulu kemeraka karena 1 teladan lebih baik dari 1000 ucapan,, mbak


Copyright © Desa Loyang

Sponsored By: Free For Download Template By: Fast Loading Seo Friendly Blogger Template