Jaya al-aziz Renungan :: Janjiku Pada Diri Sendiri Wednesday, January 29, 2014 Aku masih merasa tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Beberapa menit yang lalu, mimpiku yang kutulis dalam-dalam di dream ... 5

Renungan :: Janjiku Pada Diri Sendiri


janjiku pada diri sendiri


Aku masih merasa tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Beberapa menit yang lalu, mimpiku yang kutulis dalam-dalam di dream book dan whiteboard-ku kandas. Aku kalah telak. Bau saja aku merasa senang karena ada missed call dari radio Mata Hati sebanyak 4 kali. Aku yang sedang sibuk mengurusi persiapan raport di sekolahku sama sekali tak bisa memegang Hp. Hanya setelah anak pulang sekolah dan aku tinggal beres-beres bersama beberapa guru yang ada di kelas masing-masing, ku beranikan diri membuka Hp-ku.
            “Masya Allah, 4 missed call dari radio Mata Hati.” Pekikku pelan. Bu Nisa yang sedang merapikan buku-buku di kelas sebelah tersenyum padaku. Aku mendekatinya.
            “Bu, saya dapat missed call dari MH nih. Dari kemarin teman-teman yang masuk 5 besar sibuk sms sana-sini untuk tahu siapa saja yang diterima.” ujarku sambil memegang Hp.
            “Bagus dong, siapa tahu ibu diterima.”Katanya lembut.
            “Tapi saya kok malah merasa nggak diterima ya bu. Soalnya diantara teman-teman yang lolos, saya yang paling banyak izin karena harus ngajar dulu. Apalagi waktu wawancara, nggak maksimal banget.” Kataku lagi. Tanganku tak sengaja memencet tombol call di Hp. Dan lancarlah Hpku bergerak menelfon radio Mata Hati. Tanpa sengaja.
Aku masih ngobrol dengan bu Nisa saat Hp ditanganku memekik sebuah suara, halo, halo, halo. Aku langsung sadar kalau Hpku sedang aktif. Masya Allah.
            “Assalamu’alaikum.” Sapaku ramah.
            “Wa’alaikum salam. Maaf, benar ini dengan mbak Azky Annisa?” tanyanya lagi.
            “Iya benar, ada apa ya mbak?”
            “Mbak Azky, kami dari radio Mata Hati. Mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan mbak mengikuti seleksi kami dari awal sampai akhir, bahkan sampai bisa masuk 5 besar. Tapi mohon maag sekali, kami belum bisa menerima mbak menjadi penyiar kami. Mungkin bisa dicoba tahun depan. Sekali lagi, maaf ya mbak.” Paparnya panjang.
Aku bengong. Lidahku kelu. Tenggorokanku benar-benar tercekat. Sedetik kemudian aku berusaha menguasai diri. Aku mencoba tersenyum.
Salah satu mimpi dalam dream book-ku….
            “Oh, begitu. Iya mbak, ndak apa-apa. Tapi kalau boleh tahu alasannya apa ya?”
Jujur aku ingin tahu. Bukan untuk menghujat radio itu, tapi untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah kuperbuat sehingga gagal untuk di pertimbangkan.
            “Begini, dari lima besar yang lolos kami hanya mengambil 3 orang saja. Yang menjadi top skor dalam berbagai penilaian. Selama prosesi audisi, tes tulis sampai wawancara kemarin ka nada lima juri ya mbak. Jadi mereka yang menentukan top skornya. Paling banyak kami nilai adalah yang paling banyak pengetahuannya, mbak.”
            “Oh….KLIK.”
Hah. Kok Hpnya mati? Masya Allah, ternyata aku yang tidak sengaja menelefon ke radio. Bukan radionya. Layar hpku menampilkan info pulsa yang limit.
            “Ya Allah, bu Nisa. Ternyata saya yang nggak sengaja telefon kesana.” Kataku sambil tersenyum. Bu Nisa juga ikut tersenyum.
            “Emang gimana katanya, bu?”
            “Saya nggak diterima. Kurang pengetahuan.” Jawabku mencoba bergurau.
            “Ah, ibu ini.”
Jujur. Detik itu aku tidak apa-apa. Sangat tidak apa-apa. Tapi setelah kembali ke kelasku dan menyusun raport anak-anak sendirian. Tetes demi tetes air mataku berjatuhan. Luruh begitu saja. Ternyata sulit juga melepas mimpi yang kita idam-idamkan hilang begitu saja, padahal hanya tinggal selangkah lagi. Dalam dreambook-ku, ku tulis MENJADI PENYIAR RADIO ISLAM. Jujur, aku masih belum ikhlas. Ku tabah- tabahkan hatiku. Tetap saja, air mata ini belum juga berhenti.
Tanpa sadar, bu Hani. Guru baru yang sama denganku duduk disampingku sambil membetulkan mainan anak-anak.
            “Duuuh, rajinnya bu Azky.” Celetuknya sambil mencoel pipiku. Tapi kemudian ia terdiam. Mungkin merasakan benda basah di tangannya setelah mencolek pipiku.
            “Bu Azky, kenapa? Ada apa?” tanyanya panic dengan berusaha merendahkan suara.
            “Hiks…hiks…sa, saya tidak…di..terima di radio Mata Hati, bu…” jawabku tergeragap. Aku berusaha menahan tangis dan menghapus air mataku dengan tissue. Tapi alirannya begitu deras, sulit untuk membendungnya.
            “Oh, tapi ibu tau dari mana?” tanyanya lagi, kali ini sambil mengelus-elus punggungku.
            “Ta..di. di..telefon, bu. Saya kok sedih, ya.”
Bu Hani tersenyum.
            “Bu, Azky. Allah itu tahu yang terbaik untuk bu Azky. Ayo kita berfikir positif. Mungkin Allah ingin bu Azky fokus ngajar anak-anak. Bayangkan kalau diterima juga di radio, ibu harus izin sana-sini untuk ikut training dan deadline tugasnya. Belum lagi disini full mengajar anak-anak.” Nasehat bu Hani sedikit meredakan tangisku.
            “Tapi saya sudah lama ingin menjadi penyiar radio Islam, bu. Saya ingin melakukan aktifitas di tempat yang baik. Dan ikut berdakwah. Saya juga ingin bermanfaat untuk orang lain.” balasku, kali ini lancar.
            “Memangnya disini tidak? Di sekolah ini, kita mengajarkan cara-cara islami. Pelajarn-pelajaran agama Islam. Kita ini bermanfaat buat anak-anak, bu. Bukankah ridha Allah yang kita cari?”
Aku masih terisak.
            “Sedih boleh, kecewa pun wajar. Tapi jangan berlarut-larut ya. Yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.”
Aku menoleh penuh ucapan terima kasih pada bu Hani. Ia mengangguk dengan senyum yang bijaksana.
            “Sekarang shalat dzuhur dulu, nanti kita makan siang.”
Bu Hani bangkit dari duduknya. Tinggal aku yang membereskan sisa-sisa hasil karya anak-anak. Sekuat tenaga aku berusaha menahan tangis.
Dalam hatiku sebenarnya juga bingung, kenapa aku jadi lebay begini. Menangis hanya karena tidak diterima di radio Mata Hati. Toh aku sudah mendapat pekerjaan bahkan sebelum aku lulus kuliah. Mengajar di tempat yang baik, bergaul dengan guru-guru yang solihah dan fasilitas yang terjamin. Lalu apa yang membuatku menangis? Itu yang masih menjadi pertanyaanku.
* * *
Malam hari setelah telefon dari Mata Hati mengguncang perahu mimpiku, aku memutuskan untuk menginap di rumah bu Hani. Guru bijaksana yang menenangkan hatiku. Bersama dua anaknya, ia menyambut kadatanganku dengan penuh suka cita. Kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota. Malam itu, aku benar-benar berfikir keras. Mempertanyakan maksud tangisanku tadi pagi bahkan sampai saat ini, sejujurnya aku masih ingin menangis. Ku buka pita rekaman masa lalu yang berkelebat di memori ingatanku. Aku ingat, dulu aku adalah seorang mahasiswi yang berasal dari pesantren namun memiliki pengamalan agama yang dangkal. Aku suka bergaya dan berfikir seperti layaknya mahasiswa-mahasiswi saat ini. iya, nilai-nilaiku selalu bagus. Bahkan aku pun aktif di kegiatan-kegiatan yang produktif untuk mengembangkan diri. Namun saat itu, rohaniku hampa. Hatiku hambar. Hingga pada suatu ketika aku secara sengaja mengikuti kajian seorang ustadzah muda di masjid yang cukup jauh dari kostku. Ceramah ustadzah itu terasa begitu mengena di hati. Tentang kekuatan do’a seorang ibu. Aku teringan ibuku di kampung.
            “Hanya anak salihahlah yang bisa menyelamatkan orang tuanya dari api neraka. Hanya do’a anak solihlah yang akan diterima oleh Allah.”
Kalimat itu mengena hingga ke ulu hatiku. Terasa ngilu sekali. tersentak Tanya dalam diriku, apakah aku sudah menjadi anak solihah, yang do’aku untuk ibu bisa dikabulkan oleh Allah?”
Sejak itu aku mulai berubah. Pakaianku tak lagi pas badan, jilbabku semakin menutup dada, kajian adalah agenda rutin yang sering kudatangi. Aku baru sadar bahwa hidayah Allah sedang menghampiriku. Dalam suasana seperti itulah aku mengenal radi Mata Hati. Salah satu radio Islam di kota ini. radio ini begitu islami. Penuh dengan kajian, acara-acara keagamaan dan nasyid-nasyid islami. Tutur kata penyiarnya yang santun membuatku senang untuk terus mendengarnya. Kalau aku sedang tidak ikut kajian, dari Mata Hatilah aku bisa mendapatkan kajian yang lain. sejak itu ku tulis dalam buku mimpiku tentang keinginanku untuk menjadi penyiar radio Islam. Tidak harus di Mata Hati, tapi radio Islam mana saja. Namun memang saat itu radio Islam yang ku tahu hanya Mata Hati. Setiap hari, tanpa jeda terus kudengarkan. Aku ingin mengetahui karakteristik suara dan kalimat-kalimat penyiar nya. Setahun penuh kudengarkan radio Mata Hati. Lama-lama aku semakin cinta. Cinta pada program-program yang dibawakannya. Namun lowongan penyiar tak juga dibuka.
Akhirnya aku diterima di sekolah yang cukup bergengsi di Yogyakarta. Sekolah Ali bin Abi Thalib. Aku berangkat mengajar dari jam 06.50 dan pulang jam 13.45. sekolah yang padat. Karena makan siang pun disediakan disana. Satu bulan menjadi guru baru, lowongan Mata Hati datang. tapi aku sudah tidak begitu berminat, mengingat jadwal harianku yang sudah kepayahan. Pulang pukul dua siang, aku harus ke kampus bertemu dosen pembimbing atau merevisi skripsiku, setelah shalat ashar aku mengajar privat mengaji anak SD atau ikut kajian rutin di masjid. Pulang ke kos, hanya tinggal istirahat atau beres-beres kamar. Apa aku masih punya waktu untuk ikut audisi, tes ini-itu dan training di radio?
Temanku, Syafana terus memaksa untuk ikut. Karena memang dia juga ingin ikut mendaftar. Sampai-samapi di tengah terik matahari di rela dating ke kosku hanya untuk belajar kalimat-kalimat siaran yang biasa ada di Mata Hati. Syafana memang jarang bahkan tidak pernah mendengarkan siaran radio Mata Hati. Karena itulah, saat aku tahu dia lolos dalam tiga besar. Hatiku benar-benar tak karuan. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan aku mencoba, benar-benar mencoba untuk mendaftar. Padahal aku tidak tahu bagaimana mencuri-curi waktu dari kegiatan-kegiatanku yang lain. aku hanya terbayang dengan mimpi-mimpi yang ku tulis di diary-ku. Yang penting berusaha, hasilnya biar Allah yang atur. Begitu fikirku.
Tahap pertama adalah audisi secara langsung. Ada puluhan pendaftar radio Mata Hati yang duduk di bangku yang disediakan. Lima dewan juri berada di depan panggung siarang. Secara spontan peserta yang dipanggil maju ke atas panggung siaran. Mengambil gulungan kertas di mangkuk pertama yang berisi tema ‘dadakan’ yang harus disampaikan saat siaran. Temanya aneh-aneh. Ada Burung, malam, rindu, dan kalimat-kalimat lainnya. Mangkuk kedua berisi  tema reportase yang harus dibawakan saat itu juga dan terakhir, tentang pengetahuan umum. Peserta akan ditanya tentang pengetahuan dengan tema yang diambilnya dari mangkuk ketiga.
Saat aku maju. Tema pertama berisi “Telaga”.
            “Pendengar Mata Hati yang budiman, pernahkah kita merasa kalau hati kita sempit. Sesak oleh masalah yang ada. Sampai-sampai kita tidak bisa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan? Azky yakin, semuanya pasti pernah. Karena Azky pun merasa demikian. Tapi tahukah, itu menandakan bahwa hati kita masih sesempit air di dalam gelas. Kalau kita ingin sembuh, cobalah luaskan hati kita menjadi seluas telaga. Telaga itu luas ujungnya, bahkan mungkin tak berujung. Kalau kita memasukkan penyedap rasa didalamnya, dijamin tidak akan berubah rasanya. Pendengar Mata Hati yang baik hatinya, marilah kita luaskan hati kita seluas telaga….”
Gulungan kertas mangkuk pertama, cukup sukses.
Kedua, aku reportase tentang ‘bencana banjir’. Dan dengan meyakin-yakinkan diri, aku mulai menggambarkan berita kebanjiran.
Ketiga, aku mengambil gulungan kertas tentang Cagub dan Cawagub. Haduh. Padahal sama sekali aku tidak mengerti. Jarang baca Koran, jarang liat berita di TV. Masya Allah, lengkaplah sudah. Aku jawab sekenanya.
Setelah beberapa jam, panitia mengumumkan lima besar yang masuk babak selanjutnya. Aku dan Syafana tersenyum mengembang saat namaku dan namanya disebut secara berurutan.
Selanjutnya kami harus ikut tes tulis dan wawancara. Tepat jam 10 pagi, tanpa izin. Aku kelabakan. Karena tidak mungkin aku meninggalkan sekolah hanya demi tes beberapa jam. Akhirnya setiap tes aku minta izin ke panitia datang paling siang. Karena baru pulang dari sekolah pukul dua kurang seper empat. Mbak-mbak panitia yang baik hati mengiyakan. Meski dengan sedikit raut wajah yang berbeda. Mungkin agak jengkel dengan peserta yang satu ini. sebenarnya aku pasrah kalau harus di diskualifikasi karena alasan kedisiplinan. Belum lagi setelah itu aku harus pontang panting untuk sampai di tempat mengajar privat dengan tepat waktu. Kasihan Alika kalau harus tidak mengaji dan belajar pelajaran agama hanya karena guru privatnya ini ada kepentingan lain. belum lagi revisi skripsi yang harus segera kuperbaiki agar bisa mendapat tanda tangan dosen penguji  I dan penguji II dengan deadline akhir bulan ini. Robbi, bagaimana lagi aku harus membagi waktuku…
Dengan penuh pertimbangan dan dengan berat hati, akhirnya aku harus memilih. Yah, aku harus realistis pada apa yang aku hadapi saat ini. ,alam buku mimpiku. Tertulis kalimat GURU juga disana. Dengan menjadi guru, aku yakin bisa memberi banyak manfaat untuk anak-anak.
Yah, sepertinya aku harus memilih. Aku tidak boleh tamak dalam aktifitas. Aktif boleh, tapi tidak berlebihan. Memaksakan apa yang memang tidak bisa dipaksakan. Kalau aku terus bersikeras, maka aktifitas mengajarku akan terganggu, anak-anak akan kecewa, sekolah pun akan kecewa. Sedangkan aku hanyalah seorang guru baru. Akhirnya, aku memutuskan, kalau nanti Mata Hati menerimaku, aku akan meminta maaf dan mundur dengan baik-baik. Dengan alasan yang jelas dan logis. Tapi kalau Mata Hati tidak menerimaku, aku tidak perlu bersusah payah meminta mundur.
Tapi berat! Menjadi penyiar adalah harapanku!
Dan saat telefon itu mengatakan aku belum bisa masuk ke Mata Hati. Kenapa aku menangis? Bukankah seharusnya aku biasa saja???? Ini yang menjadi pertanyaanku. Mengapa aku menangis?
Ku ingat-ingat lagi kalimat yang disampaikan oleh kru radio Mata Hati.
“Kami juga menilai pengetahuan dan wawasan.”
Masya Allah. Iya benar, kalimat itulah sepertinya yang membuatku menangis. Dengan kata lain, ia mnegatakan kalau wawasanku masih jauh dibawah saingan-sainganku. Aku mengingat-ingat 5 besar yang lolos Audisi. Rata-rata anak UGM, bahkan ada yang dari Fisipol. Dengan Syafana aku memang kalah telak dalam berargumen. Pantas. Aku memanggut-manggutkan dagu. Anak bu Hani yang melihatku hanya geleng-geleng kepala. Aku tersenyum padanya.
Tiba-tiba aku merasa bahwa akulah penyebabnya. Penyebab dari kegagalan yang kudapat. Jelas saja wawasanku mandeg. Aku sudah tidak pernah baca Koran, majalah, artikel-artikel penting dan baru, melihat berita di TV atau berdebat dengan baik seperti yang dulu sering kulakukan bersama Syafana dan lembaga kami. Bahkan, sekedar novel yang biasanya menemani hari-hariku sudah tak pernah kelihatan lagi. Alqur’an pun semakin sering menjadi hiasan rak belajarku dan buku-buku agama semakin berdebu karena pemiliknya tidak kunjung menyentuhnya.
Allah…inikah teguran darimu. Teguran kepada hambaMu yang merasa sok pintar.  Tamparan untuk hambaMu yang merasa cukup dengan diriNya, tanpa harus belajar lagi. Sejak SD, SMP, SMA selama di pesantren menjadi juara kelas bahkan saat kuliah nilai IPK yang terus naik membuatku sombong dengan pengetahuan dangkal yang kumiliki.
Malam ini, di kamar bu Hani. Aku baru menyadari sesuatu. Langsung ku sambar diary yang ku bawa juga menginap. Ku tulis ikrar penjanjianku dengan diri sendiri.
            Assalamu’alaikum wr. wb.
Ya Allah. Malam ini aku sadar bahwa, manjadi wanita bodoh dan malas adalah sebuah dosa. Dosa karena tidak mengembangkan akal yang Engkau berikan. Dosa karena merasa pintar diatas kebodohan diri sendiri dan dosa karena orang akan meremehkanku. Malam ini, Ya Allah…aku berjanji padaku dan padaMu, bahwa dimanapun dan kapanpun aku akan terus membaca buku. Buku apapun itu! Saksikanlah ya Allah… aku ingin menjadi muslimah yang cerdas!
Ku bubuhkan tanda tangan di bawahnya. Ku tulis namaku AZKY ANNISA. Dengan sepenuh hati. Untuk menghibur diriku, ku ucapkan dengan lirih.
            “Azky, bangkitlah. Di Mata Hati mungkin memang bukan tempat yang cocok buatmu. Ingat saat wawancara? Seorang kru bertanya. Apa yang anda lakukan jika suara kita bagus, kepribadian kita baik, tapi wawasan kita masih sempit dan kurang? Saat itu ku jawab dengan tegas: Belajar! Karena aku yakim tidak ada manusia yang sempurna, semuanya butuh proses. Proses menuju perbaikan itu disebut belajar. Sepertinya di Mata Hati belum sependapat denganmu. Buktinya mereka menyisihkan 2 orang dari 5 orang hanya karena top skor pengetahuan yang minim. Mereka tidak membutuhkan proses, tapi hasil saat ini….Demi Allah, aku tidak menyalahkan Mata Hati. Itu adalah kebijakan mereka. Tapi yakinlah, Azky, Allah sudah mempersiapakan tempat terbaik untukmu. Saat ini fokuslah dulu pada tugas dan kewajiban yang ada di hadapanmu. Kuncinya adalah ikhlas.”
Aku tersenyum senang.
            “Hayooo, masih mikirin radio ya?” bu Hani mengagetkanku yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
            “Sudahlah, dek Azky. Ambil hikmahnya aja. Coba banyangkan kalau kamu di terima di Mata Hati. UmpamanyakKamu harus ikut acara mereka jam 8 pagi, sedangkan kamu sedang ngajar. Nggak mungkin kan izin dari sekolah, mau izin terus dari radio juga nggak enak. Allah itu sudah memilihkan yang terbaik kok.” Kata bu Hani sambil memeluk bantak gulingnya.
            “Dih, ibu ketinggalan. Orang saya udah insaf kok….weee”
Bu Hani mencubitku pelan.
Benar katamu, bu…Allah sudah memilihkan yang terbaik…aku harus yakin itu. Bismillah….

Author : Zias G Farrezma

Related Posts On Cerita Motivasi

No comments:


Copyright © Desa Loyang

Sponsored By: Free For Download Template By: Fast Loading Seo Friendly Blogger Template